Oleh: Wan Ades Iskandar
Nasution
Siang itu, aroma
gulai lomak dan sambal belacan buatan istriku benar-benar
menjadi magnet yang tak tertahankan. Harumnya memenuhi ruangan, memicu nafsu
makan yang sudah memuncak. Namun, baru saja jemariku hendak menyuap nasi yang
telah kuramu sedemikian rupa, ketenangan itu pecah. Ponsel yang tergeletak dua
meter dari tempatku duduk berdering nyaring.
Awalnya kuabaikan.
Perutku lebih menuntut perhatian daripada benda mati itu. Namun, tepat saat
nasi tinggal seujung kuku dari bibir, si ponsel kembali "berkicau".
Ada urgensi dalam nadanya. Sambil menghela napas, kuurungkan niat makan dan
kuraih gawai itu.
Nama di layar
membuatku tersentak: Bung Kamal.
"Bang, kami
sedang melintas di Kotapinang menuju Jakarta. Nanti kami singgah, kita harus
jumpa! Aku sedang bersama seorang sastrawan senior," suara Kamal terdengar
antusias dari seberang sana.
"Siap, Bang.
Dengan senang hati," jawabku singkat. Aku pun kembali ke meja makan,
menghabiskan sisa makananku di piring dengan lahap, sebelum akhirnya bersiap
menjemput janji malam itu.
Sastrawan
dalam Balutan Kesederhanaan
Selepas Isya, di sebuah warung remang-remang di persimpangan jalan Labuhanbatu Selatan, sebuah mobil berhenti. Bung Kamal turun bersama sesosok pria berpenampilan sangat bersahaja. Sorban melilit lehernya, gerak-geriknya tenang tanpa pretensi.
"Inilah Bung
Sugeng Satya Dharma, seorang sastrawan, wartawan, dan penulis hebat dari
Medan," celetuk Kamal memperkenalkannya.
Aku terpana. Mengapa
tidak? Seorang novelis sekelas beliau sudi mampir ke Bumi Santun
Berkata Bijak Berkarya hanya untuk berdiskusi denganku—seorang Ades
yang merasa "bukan siapa-siapa" di jagat sastra. Kami duduk di sebuah
warung sederhana, namun percakapan yang mengalir setelahnya sama sekali tidak
sederhana.
Selama dua jam, kami
larut dalam arus literasi, sastra, dan budaya. Sesekali obrolan kami membelah
sejarah Kesultanan Kotapinang yang selama ini masih banyak terdistorsi atau
belum diketahui khalayak luas. Aku "nyerocos" menjelaskan silsilah
dan sekelumit kisah masa lalu, sementara beliau menyimak dengan anggukan tenang
sembari menyeruput teh jahe hangat.
"Teruslah
Berkarya, Walau Diabaikan"
Satu pesan beliau yang menghujam jantungku malam itu adalah tentang kemandirian kreatif. Beliau mengingatkan bahwa pujangga dan penulis sering kali dipandang sebelah mata oleh birokrasi, dianggap sebagai pelengkap yang tak penting.
"Tapi teruslah
berkarya. Bangun jaringan, menyatu, dan jadilah kuat secara mandiri,"
sarannya tegas.
Malam itu kian
istimewa saat beliau menyerahkan mahakaryanya, sebuah novel berjudul "Sumeleh".
Beliau memberikan buku itu tepat sebelum bertolak ke Jakarta untuk peluncuran
resminya. Bagiku, itu bukan sekadar buku; itu adalah simbol persahabatan dan
penghargaan yang sulit kulukiskan dengan imajinasi dangkal ini.
Pertemuan singkat di
warung simpang tiga itu meninggalkan jejak yang dalam. Kami bahkan mulai
merencanakan sebuah perhelatan sastra besar yang mengundang para pegiat dan
budayawan se-Sumatera Utara dengan harapan Labusel menjadi tuan rumahnya.
Malam itu, aku belajar
satu hal: Sastra tidak butuh panggung megah untuk menjadi besar. Ia hanya butuh
hati yang jujur dan kesediaan untuk berbagi dalam kesederhanaan.
(Mie Aceh Simpang
Raya, Kotapinang, 21 Mei 2022, 21.00 wib)



.jpeg)
Posting Komentar
0Komentar