KONTRIBUSI KESULTANAN SIAK DALAM PERJUANGAN KEMERDEKAAN INDONESIA DAN TIMBAL BALIKNYA (III)

Media Barak Time.com
By -
0

                                                                              




                                                                   Oleh:

Datuk Seri Prof. Dr. OK. Saidin, SH. M.Hum Al Haj
Ketua Umum
Pengurus Besar Majelis Adat Melayu Indonesia
(Perode 2024 – 2029)

Disampaikan dalam Simposium “Siak Sebagai Pusat Kebudayaan Melayu” Kerjasama Perhimpunan Keluarga Siak Riau dan

Pemerintah Kabupaten Siak



Posisi Kesultanan Siak yang berada di jalur perdagangan yang sangat strategis menyebabkan wilayah ini menjadi rebutan Belanda dan Inggris. Pasca kemerdekaan Kesultanan Siak tidak lagi eksis seperti kebanyakan Kesultanan di Nusantara, sekalipun telah bergabung dengan Republik Indonesia, kesultanan iNusantara lainnya paling tidak tyetap mengukuhkan keturunannya  dan tetap bmemposisikan dirinya sebagai Sultan atau Raja atau Kepala Masyarakat Adat dan mempertahankan wilayah keadatannya serta memiliki hubungan emosional dan kultural  dengan  kawula masyarakat adatnya.

 

Perluasan dan Pemisahan Wilayah Kesultanan Siak

Semula Kesultanan Siak memiliki wilayah di sekitar Buantan di pinggir Sungai Siak. Dalam perkembangannya kemudian wilayah Kesultanan ini meluas hingga sampai ke Malaka dan Johor - Johon kembali ditaklukkan pada Masa Sultan Sayid Ali  Gelar Sultan Assayyidis Syarif Ali Abdul Jalil Saifuddin - sebagian wilayah Pantai Timur Sumatera Timur  mulai dari Bilah, Panei, Kuwaluh, Kota Pinang, Batu Bara, Deli, Serdang, Langkat hingga sampai ke Tamiang (Aceh) dan ke arah Barat sampai ke Pelalawan.

Pusat pemerintahan Siak mengalami beberapa kali perpindahan. Pertama di Buantan kemudian pindah ke Mempura dan kemudian ke Senapelan (sekarang Pekanbaru) dan terakhir menetap di Siak Sri Indrapura sampai pada masa kemerdekaan hingga kini.

Peta wilayah kekuasaan Siak.

                                               Sumber: wikipedia.org

 

Beberapa tahun kemudian  sebagian Wilayah Kesultanan Siak di Sumatera Timur memisahkan diri.

Catatan yang dapat kami turunkan dalam naskah  ini adalah:

Wilayah kerajaan Sumatera Timur yang semula berada di bawah taklukan Kesultanan Siak mulai melepaskan diri dari kungkungannya. Kesultanan Bilah dan Panai melepasakan diri dari Siak tanggal 11 Agustus 1862 kemudian menyusul Kesultanan Serdang  16 Agustus tahun 1862. Deli melepaskan diri menyusul Kesultanan Serdang pada tanggal  22 Agustus 1862.

Setelah itu berturut-turut Kerajaan di Sumatera Timur melepaskan diri dari kungkungan Kesultanan Siak. Kota Pinang melepasakan diri tanggal 2 Oktober 1864, Langkat 21 Oktober 1865, Kuwaluh Ledong tanggal 21 Agustus 1885 dan  Asahan melepaskan diri pada tanggal 25 Maret 1886. Kemudian yang berhampiran dengan ibu kota Kesultanan Siak juga melepaskan diri yakni Pelalawan melepaskan diri tanggal 4 Februari 1888 dan menyusul Kota Rokan Kiri melepaskan diri tanggal 15 Maret 1889.[i] Tak terdapat catatan kapan Batu Bahara  (atau Batubara) melepaskan diri dari Kesultanan Siak, sehingga sampai pasca kemerdekaan Batu Bara tetap berada di bawah taklukan Kesultanan Siak.

Dengan status yang otonom ini, kecuali Batu Bara,  di Deli dan Serdang penanaman tembakau semakin  meluas. Apalagi pada tahun berikutnya yakni 1864 ditempatkan Controleur perwakilan pemerintah Belanda bernama J.A.M.van Cats de Roet (Schadee I, hlm. 125).

 

Kehadiran Sultan Siak Di Sumtim Pasca Kemerdekaan

Pasca Indonesia menyatakan kemerdekaannya Sultan Deli bersama-sama Raja-Raja se-Sumatera mengadakan Rapat di Padang Panjang pada tanggal 21 sd 23 Desember dan menyatakan dukungannya dan berdiri bersama-sama Republik. Belanda dan sekutunya Inggris di penghujung tahun 1945 tak lagi memiliki kekuatan untuk meluaskan kekuasaannya di luar Medan.

Kehadiran pertama kalinya Sultan Siak Tuanku Sultan Syarif Kasim II pasca Indonesia menyatakan kemerdekaan  di Sumatera Timur (Sumtim) pada Tanggal 25 Januari  1946. Beliau hadir di Medan bersama Gubernur Sumatera Teuku Muhammad Hasan dan dr. Amir wakil Gubernur Sumatera untuk menengahi ketegangan yang mulai menyeruak antara sebagian masyarakat yang ingin mengakhiri kekuasaan para Sultan di Sumatera Timur.

Akhir Januari 1946 Residen Sumatera Timur Tengku Hafas juga sebagai Kepala Kewaziran Negeri Bedagai (di bawah Kesultanan Deli)  sudah tak aktif lagi menjalankan aktivitas pemerintahan.

Awal Pebruari 1946 Tengku Amir Hamzah, diam-diam mengundurkan diri dalam kedudukannya sebagai Asisten Residen, karena adanya ancaman dari pemuda sosiolis Indonesia (Pesindo) Tanjung Pura, di samping adanya “tekanan” terhadap Sultan Langkat dari Sekretaris Sultan yang oleh pemuda sosiolis Indonesia dianggap pro Belanda.

Awal Pebruari 1946 Luat Siregar, Terpilih sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Sumatera Timur. Kehadiran Komite ini berkedok sebagai institusi guna mendorong agar para sultan lebih bersifat demokratis. Padahal selamanya sultan-sultan di Sumatera Timur dengan sistem Monarki pemaknaan demokratis yang dimaksudkan Komite ini adalah suatu hal yang mengada-ada, sebab pada Tanggal 2 Maret dalam dokumen rahasia tentara Sekutu sudah diperoleh informasi bahwa Partai Komunis Indonesia dan Barisan Harimau Liar bekerjasama dalam aksi  menghabiskan kekuasaan raja-raja di Sumatera Timur yang akan didukung penuh oleh Volksfront dan Partai Sosialis Indonesia (Parsi) besutan Mr.Amir Syarifuddin yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan (1945-1948) yang didirikan pada bulan  November 1945.

Sebelumnya awal bulan Pebruari 1946, dr. M. Amir (Sosialis/Komunis), mantan ketua dokter pribadi Sultan Langkat, meminta agar para Sultan mau bekerjasama dengan KNI-KNI lokal yang baru dibentuk.

Pada tanggal 3 Pebruari 1946  Sultan Siak Tuanku Sultan Syarif Kasim II hadir untuk kedua kalinya hadir di Sumatera Timur menghadiri Rapat Komite Nasional Indonesia (KNI) yang dihadiri Raja dan Sultan Sumatera Timur. Tampaknya Sultan Siak Tuanku Sultan Syarif Kasim II tak mengetahui atau setidak-tidaknya dirahasiakan oleh Pemerintahan Bung Karno tentang adanya informasi bahwa Volksfront dan Partai Sosialis Indonesia (Parsi) akan mengakhiri kekuasaan Raja-Raja/Kesultanan di Sumatera Timur. Raja-raja/Sultan di Sumatera Timur sangat menghormati Sultan Siak Tuanku Sultan Syarif Kasim II yang menjadi “telangkai”  bersama Sultan Serdang (diwakili Putera Mahkota Sultan Serdang Tengku Rajih Anwar) untuk berdialoq dengan Raja-raja/Sultan di Sumatera Timur agar mendukung Republik Indonesia yang baru berusia 7 (tujuh) bulan. Penghormatan Raja-raja/Sultan di  Sumatera Timur terhadap Sultan Siak Tuanku Sultan Syarif Kasim II bukan tanpa alasan. Raja-raja/Sultan di  Sumatera Timur masih memiliki sejarah yang panjang dengan Kesultanan Siak dan  lagi Raja-raja/Sultan di  Sumatera Timur memiliki hubungan kekerabatan dan kultur dengan Kesultanan Melayu yang pernah di bawah taklukan Siak. Kesultanan Deli  misalnya memiliki hubungan kekerabatan dengan Kesultanan Perak. Demikian juga Kesultanan Serdang,  Langkat dan Asahan. Ibunda dari Sultan Musa (Sultan Langkat I) adalah Puteri Sultan Siak yang bernama Tengku Kannah. Ayahanda Sultan Musa bernama Raja Ahmad ibni Raja Indra Bungsu.

Bersambung.....



[i]  Mahadi., Sedikit Sejarah perkembangan Hak-Hak Suku Melayu Atas Tanah di Sumatera Timur (Tahun 1800 – 1975), BPHN-Alumni., Alumni, Bandung, 1978,.hlm.46. Lihat juga Mededeelingen, Serie A.No.3, hlm 545.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)