Oleh:
Datuk Seri Prof. Dr. OK. Saidin, SH. M.Hum Al Haj
Pengurus Besar Majelis Adat
Melayu Indonesia
(Perode 2024 – 2029)
Disampaikan dalam Simposium
“Siak Sebagai Pusat Kebudayaan Melayu” Kerjasama Perhimpunan Keluarga Siak Riau
dan
Pemerintah Kabupaten Siak
Sultan berikutnya
adalah Sultan Ismail Gelar Sultan Abdul
Jalil Rahmad Syah II yang pernah naik takhta sebelumnya sebagai Sultan
yang ketiga (1761-17620) yang tergusur
dari takhtanya karena politik pecah belah VOC/Belanda. Sultan yang Sultan
Ismail ini memerintah selama dua tahun dari Tahun 1779 sampai dengan 1781.
Sultan yang keenam Sultan Yahya
Gelar Sultan Yahya Abdul Jalil
Muzaffar Syah yang berkuasa dari Tahun 1781 sampai dengan Tahun 1784. Beliau adalah Putra dari Raja Ismail Gelar
Sultan Ismail Jalaluddin Syah Putra (Sultan Siak ketiga). Sultan Yahya menanda
tangani perjanjian dengan V.O.C pada tanggal 1 Agustus 1782 dan memintakan
dukungan V.O.C dalam melawan Inggris. Ia kemudian dikudeta oleh Sultan Sayyid
Ali yang menggantikan kedudukannya
kemudian sebagai Sultan. Sultan Yahya akhirnya menyingkir ke Kampar
kemudian ke Terengganu hingga akhirnya mangkat pada tahun 1791 dan dimakamkan
di Tanjung Pati (Che Lijah, Dungun, Terengganu, Malaysia). Versi lain
menceritakan bahwa bahwa Sayid Ali adalah Panglima Perang Sultan Yahya yang
bepergian ke Terangganu, lalu jatuh sakit dan mangkat di sana.. Kedudukannya
kemudian digantikan oleh Panglima Perangnya tersebut yakni Sultan Sayid Ali.
Sultan yang ketujuh
adalah Sultan Sayid Ali Gelar Sultan Assayyidis Syarif Ali Abdul
Jalil Saifuddin yang berkuasa mulai dari Tahun 1784 sampai dengan Tahun 1811.
Nasabnya sendiri tidak berasal dari keturunan Sultan Siak sebelumnya kecuali
isterinya Tengku Embung Badariah puteri dari Raja Alam Gelar Sultan Abdul Jalil
Alamuddin Riayat Syah, Sultan Siak yang keempat. Sultan Sayid Ali adalah Putera
dari Sayyid Usman Syahabuddin keturunan Hadramy yang menjadi Panglima Perang
Kesultanan Siak pada masa kepemimpinan Sultan Siak yang keenam. Pada masa
pemerintahan Sultan Sayid Ali Siak memperluas wilayah taklukannya hingga ke
Malaka, Johor dan Pulau Lingga dan Pelalawan sampai ke Pesisir Timur
Sumatera bagian Timur, mulai dari Bilah, Panei Kuwaluh, Kota Pinang, Asahan,
Batu Bara, Serdang, Deli, Langkat hingga ke Tamiang yang dikenal wilayah Jajahan
12.
Sultan yang kedelapan
adalah Sulan Sayyid Ibrahim Gelar Sultan
Assayyidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Khaliluddin yang berkuasa mulai dari
Tahun 1811 sampai dengan Tahun 1827. Beliau adalah Putra dari Sultan Siak ketujuh
Sultan Sayid Ali Gelar Sultan Assayyidis
Syarif Ali Abdul Jalil Saifuddin. Akibat dari perjanjian yang dikenal dengan
Traktat London Tahun 1824 beberapa
wilayah Kesultanan Siak yang semua telah mempersatukan “Tanah Melayu” harus
rela terpisah karena adanya Koloni Inggris dan Belanda.[i] Johor harus lepas dari
Siak, dan Lingga yang semula di bawah Inggris masuk menjadi wilayah Belanda. [ii]
Sultan yang
kesembilan adalah Sultan Sayyid Ismail Gelar Assayyidis Syarif Ismail Abdul
Jalil Jalaluddin yang berkuasa mulai dari Tahun 1827 sampai dengan Tahun 1864.
Beliau adalah cucu dari Sayyid Ahmad atau adik dari Sultan yang ketujuh yakni
Sultan Sayid Ali Gelar Sultan Assayyidis
Syarif Ali Abdul Jalil Saifuddin. Sebelum diangkat menjadi Sultan yang kesembilan
Sultan Sayyid Ismail sendiri dilekatkan Gelar Mangkubumi Sayyid Al Syarif
Jalaluddin ‘Ali Ba’ Alawi. Di sini
tampak pengangkatan Sultan tidak lagi berdasarkan keturunan langsung dari
Sultan sebelumnya atau berdasarkan Putera Mahkota. Atau dalam Qanun Deli
dikenal dengan, “Raja Mangkat Raja menanam” dari keturtunan langsung secara
vertikal. Tradisi pengangkatan raja-raja Arab tampaknya mulai dominan, yakni
Sultan tidak mesti diangkat dari anak kandung Sultan, apalagi berdasarkan
tradisi Anak Gahara. Tahun 1840 beliau bersetuju atas perjanjian yang dibuat
oleh Inggris dan menjelang akhir Tahun 1864
beliau dipaksa turun takhta oleh pihak Belanda.
Sultan yang
kesepuluh adalah Sultan Syarif Kasim I
Gelar Assayyidis Syarif Kasim I Abdul Jalil Saifuddin yang berkuasa mulai dari
Tahun 1864 sampai dengan Tahun 1889. Beliau adalah saudara kandung dari Sultan
Sayyid Ismail Gelar Assayyidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin. Pada masa
pemerintahan Sultan Kasim I, Belanda
mulai menancapkan kukunya. Pengangkatannya harus disutujui Ratu Belanda dan
Belanda kemudian menempatkan Controleur di Siak sebagai perwakilan
Kerajaan Belanda di Kesultanan Siak.
Sultan yang kesebelas
adalah Sultan Syarif Hasyim Gelar Yang Dipertuan Besar Assayyidis Syarif Hasim
I Abdul Jalil Saifuddin yang berkuasa mulai dari Tahun 1889 sampai dengan Tahun
1908. Beliau adalah Putera dari Sultan Syarif Kasim I Gelar Assayyidis Syarif
Kasim I Abdul Jalil Saifuddin. Karya besarnya adalah menerbitkan kitab
Undang-undang resmi Kesultanan Siak Sri Indra Pura yang dikenal dengan Bab
Al-Qawa’id.
Sultan yang
kedua belas - adalah Sultan Syarif Kasim
II Gelar Yang Dipertuan Besar Assayyidis
Syarif Kasim II Abdul Jalil Saifuddin yang dalam urutan Sultan yang pernah naik
Takhta di Siak adalah Sultan Siak XIII sebab Sultan yang keenam adalah Sultan Ismail
Gelar Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah II adalah yang sebelumnya pernah naik takhta menjadi
Sultan yang ketiga namun kemudian disingkirkan karena tidak berpihak kepada VOC.
Sultan Syarif Kasim II Gelar Yang
Dipertuan Besar Assayyidis Syarif Kasim II Abdul Jalil Saifuddin y berkuasa
mulai dari Tahun 1908 sampai dengan Tahun 1945, hingga akhirnya Sultan Syarif
Kasim II menyerahkan kekuasaannya dan sekaligus pernyataan bergabung dengan
Pemerintah Republik Indonesia. Ini juga masih menimbulkan kontroversi, benarkah
ia menyerahkan kekuasaannya secara sukarela atau mendapat tekanan dari
Pemerintah RI yang baru berdiri ketika itu.
[i] Tun
Mahathir Muhammad pada satu kesempatan berbincang-bincang dengan kami menjelang
usianya ke 100 tahun di kantornya di Perdana Leadership Foundation - Putrajaya
Malaysia, Tanggal 23 April 2025, Pukul 05.00- 17.15 Waktu Semenajung,
mengatakan, “Kite ni Melayu Indonesia – Malaysia adalah saudara serumpun,
penjajah sahaje yang memisahkan kite”.
[ii] Hubungan
antara Siak dan Lingga berakar dari warisan budaya dan politik
Kesultanan Johor-Riau-Lingga yang sama, di mana keduanya merupakan pusat
kekuatan Melayu Islam. Siak
(didirikan 1723) dan Lingga didirikan
100 tahun kemudian sebagai pusat Kesultanan Riau-Lingga yang semula masuk dalam
wilayah kerajaan Johor yang terbelah karenan adanya Traktat London (PERJANJIAN
BELANDA-INGGRIS) di mana wilayah Lingga masuk ke wilayah Belanda dan Johor
masuk ke dalam wilayah Inggeris. Semula pusat kerajaannya di Tanjung Pinang,
lau pindah ke Lingga. Hubungan darah raja-raja Melayu (Johor,Siak) -Bugis, masih
tampak dalam Silsilah Garis Keturunan, meskipun
keduanya kemudian menjadi entitas kerajaan yang berdiri sendiri.


Posting Komentar
0Komentar