KONTRIBUSI KESULTANAN SIAK DALAM PERJUANGAN KEMERDEKAAN INDONESIA DAN TIMBAL BALIKNYA

Media Barak Time.com
By -
0

 




Oleh:

 

Datuk Seri Prof. Dr. OK. Saidin, SH. M.Hum Al Haj

 Ketua Umum

Pengurus Besar Majelis Adat Melayu Indonesia

(Perode 2024 – 2029)

Disampaikan dalam Simposium “Siak Sebagai Pusat Kebudayaan Melayu” Kerjasama Perhimpunan Keluarga Siak Riau dan

Pemerintah Kabupaten Siak


Sedikit Sejarah Kesultanan Siak

Kesultanan Siak Sri Indrapura Darul Ridzuan (Melayu: كسلطانن سياك سري اندراڤور) adalah sebuah kerajaan Melayu Islam. Didirikan oleh  Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah yang dikenal sebagai Raja Kecik (Raja Kecil) pada tahun 1723. Beliau adalah Putera Sultan Mahmud Syah II, Sultan Johor.

 Semula willayah kerajaan ini hanya menguasai wilayah pesisir di pinggiran Sungai Siak (teparnya di Buantan, Riau Daratan), namun dalam perjalanannya wilayah Kesultanan ini membentang di sepanjang pesisir pantai timur Sumatera mulai dari Tamiang (sekarang wilayah paling Timur Propinsi Aceh) sampai ke Pelalawan (Sekarang wilayah  paling Timur Propinsi Riau Daratan), hingga suatu masa pernah meluas sampai ke Malaka, dan Johor. Namun di kemudian hari sebagian wilayah itu memisahkan diri dari Kerajaan Siak dan menjadi kerajaan yang berdiri sendiri.

Latar belakang berdirinya kerajaan Siak diawali konflik internal di Kesultanan Johor. Raja Kecil (Putera Sultan Mahmud Syah II, Sultan Johor) sebenarnya sempat naik takhta menjadi Sultan Johor pada tahun 1718 dengan Gelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Shah menggantikan ayahandanya. Jabatan itu diperolehnya setelah serangan yang dilakukannya  pada tahun 1718. Raja Kecil beserta pasukannya dari Minagkabau menyerang Istana Johor dan Ia memenangkan serangan itu nyaris tanpa perlawanan.

 Namun dalam rentang sejarah berikutnya Raja Kecil tidak menjadi sultan Johor secara permanen karena ia digulingkan pada tahun 1722 oleh pengaruh kuat orang-orang Bugis, yang tidak sepenuhnya mendukung klaimnya sebagai Sultan Johor. Orang-orang yang kala itu juga merupakan turunan dari bangsawan Bugis lebih memilih mendukung garis keturunan Bendahara Kesultanan Johor, yang akhirnya menghantarkan pada pelantikan Sultan Sulaiman (anak Bendahara Abdul Jalil) menjadi Sultan Johor menggantikan Raja Kecik. Meskipun, Sultan Sulaiman sendiri lebih diposisikan sebagai sultan boneka, karena kekuasaan sesungguhnya dipegang oleh Daeng Merewah sebagai Yang Dipertuan Muda. [i]

 Di samping itu Raja Kecik sendiri oleh Rakyat Johor juga banyak mempertanyakan tentang Dzurriyatnya  sebagai  Putera Sultan Mahmud Syah yang terlahir sebagai Anak Gahara, dan karenanya sebagaian rakyat Johor menganggapnya hanya wakil dari Pagaruyung yang mereka anggap juga kurang loyal kepada Kerajaan Johor.[ii] Kisah-kisah dibalik ini masih menyisihkan banyak catatan-catatan lain yang tidak bersifat “hitam-putih”. Bahwa sejarah perseteruan ini diwarnai  juga dari “kisah asmara” yang menyimpan dendam dan benih kemarahan yang berpengaruh juga terhadap kelanggengan kepemimpinan Raja Kecik sebagai Sultan Johor.  

Akan tetapi dalam berbagai referensi kekalahan Raja kecik  dalam mempertahankan kekuasaannya sebagai Sultan Johor karena alasan berikut:[iii] 

Pertama, sebagian sejarawan menulis  kejatuhan Raja Kecik sebagai Sultan Johor dikarenakan Intervensi Bangsawan Bugis yang didorong oleh Penghianatan Bangsawan Johor sendiri. Beberapa bangsawan Johor membangun aliansi dengan pihak Bangsawan Bugis untuk  menggulingkannya. Pada tahun 1721-1722, Raja Sulaiman (putra dari Sultan Abdul Jalil IV yang dikudeta Raja Kecil) meminta bantuan kepada para bangsawan Bugis (Upu-upu Bugis lima bersaudara) untuk merebut kembali takhta.[iv]

Kedua, Kekalahan Militer. Serangan besar-besaran dari pasukan Bugis di Riau mengakibatkan kekalahan pihak Raja Kecil dalam serangkaian pertempuran di Pulau Penyengat dan sekitarnya.

Setelah peristiwa itu, konflik tidak langsung berhenti. Konflik terus berlangsung selama bertahun-tahun yang melemahkan kedua pihak, akhirnya mendorong kedua pihak untuk membuat perjanjian perdamaian. Dalam kesepakatan itu juga diatur tentang  pembagian wilayah.

1.      Wilayah Riau, Lingga, Johor, Singapura, dan Pahang dipimpin oleh  Sultan Sulaiman Badrul Alam Shah.

2.      Wilayah daratan dan pesisir Pantai Timur Sumatera bagian Tengah, di sepanjang aliran Sungai Siak tepatnya di Buantan menjadi bagian wilayah kekuasaan Raja Kecik.

Di sinilah (Buantan) Raja Kecik mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Siak Sri Indrapura pada tahun 1723 dengan gelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah[v] yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Siak. Gelar Raja Kecik yang dilekatkan pada Abdul Jalil Rahmad Syah I adalah karena beliau adalah Putera Sultan Johor yang “tergusur” dari Kerajaan ayahandanya.

Singkatnya, seperti yang dijelaskan oleh Universitas Riau dalam Wikipedia Raja Kecik gagal menetap sebagai Sultan Johor karena kalah dalam perebutan kekuasaan melawan aliansi Johor - Bugis yang mendukung keturunan Sultan Johor sebelumnya. Raja Kecik terpaksa turun takhta dan pindah ke Siak dan menjadikan Siak pusat pemerintahannya. Ia kemudian mendirikan Kesultanan Siak Sri Indrapura, sekaligus menjadi pendiri dinasti Siak.

Dengan mengutip berbagai referensi silsilah Kesultanan Siak Sri Indrapura sampai dengan awal kemerdekan dapat dicatatkan sebagai berikut ;

Sultan Siak yang pertama adalah Raja Kecik (Raja Kecil), Gelar Sultan Abdul Jalil Rahamat Syah I yang berkuasa dari tahun 1723 sampai dengan Tahun 1740.

Sultan yang kedua adalah Raja Buwang atau Tengku Buwang Asmara Gelar Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzaffar Syah  Putera dari Raja Kecik yang berkuasa dari Tahun 1740 sampai dengan Tahun 1760. Sultan yang kedua inilah yang memindahkan pusat kerajaan dari Buantan ke Menpura.

Sultan yang ketiga adalah Raja Ismail Gelar Sultan Ismail Jalaluddin Syah Putra dari Sultan  Muhammad Abdul Jalil Muzaffar yang berkuasa dari Tahun 1760 sampai dengan Tahun 1761. Ia hanya satu tahun saja naik takhta yang kemudian karena tidak berpihak kepada V.O.C beliau diasingkan selama 18 tahun dan kemudian hidup berkelana yang di kemudian hari naik takhta kembali pada Tahun 1779.

Sultan yang keempat Raja Alam Gelar Sultan Abdul Jalil Alamuddin Riayat Syah Putra dari Raja Kecik (Raja Kecil) Sultan Abdul Jalil Rahamat Syah I yang berkuasa dari Tahun 1761 sampai dengan Tahun 1766. Ia naik takhta setelah menyingkirkan pamannya atas bantuan Belanda[vi] dan merebut kekuasaan dari Sultan Ismail. Beliau juga memindahkan ibu kota Kesultanan ke Senapelan.

Sultan yang kelima adalah  Muhammad Ali Gelar Sultan  Muhammad Ali Abdul Jalil  Muhazzam Syah. Beliau adalah Putera dari Sultan Alamuddin Riayat Syah Putra yang berkuasa dari Tahun 1766 sampai dengan Tahun 1779. Banyak prestasi gemilang yang diraih oleh Sultan yang kelima ini. Antara lain wilayah Johor sudah kembali masuk ke dalam taklukannya. Ia juga mengizinkan pembentukan secara otonom Kesultanan Negeri Sembilan pada Tahun 1773. Beliau juga mendirikan pusat kota yang kita kenal hari ini sebagai Kota Pekanbaru.



[i] Daeng Marewah (wafat 1729) adalah yang Dipertuan Muda Riau (1721-1729) yang bergelar Kelana Jaya Putera dan pemimpin Bugis lima bersaudara yang berpengaruh besar di Kesultanan Johor-Riau-Lingga. Ia diangkat oleh Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah I atas jasanya memenangkan perang melawan Raja Kecik. Iihat lebih lanjut  lihat van Eysinga, Phillippus Pieter Roorda (1841). Handboek der landen volkenkunde, geschiedtall,

aardrijks en staakunde von Nederlandsch Indie, Vol.3. van Bakkenes, hlm.177.

[ii] Anak Gahara adalah Putera Sultan yang lahir dari ibu sebagai Permaisuri Sultan (yang dibedakan dengan Putera Sultan yang lahir dari Isteri Selir) yang berasal dari keturunan bangsawan, baik yang berasal dari Kesultanan Asalnya maupun Kesultanan dari negeri lain. Misalnya Sultan Serdang Tuanku Akhmad Thala’a Syarifu Alamsyah adalah anak Gahara karena terlahir dari Ayahanda  Tengku Abu Nawar Sinar Syariful Alamsyah (Putera Sultan Serdang Tuanku Sultan Sulaiman  Syariful Alamsyah) dan Ibunda Tengku Mul puteri dari Sultan Deli  XI  Sultan Osman Al Sani Perkasa Alamsya Ibni Sultan  Amaluddin Sani Perkasa Alamsyah. Sultan Osman Al Sani Perkasa Alamsyah adalah Anak Gahara karena dilahirkan dari pasangan Sultan Amaluddin Sani Perkasa Alamsyah  Sultan Deli  X dengan Tengku Khalijah yang merupakan Puteri Sultan Perak  XXVI yakni Sultan Abdullah Muhammad Shah II.

[iii] Lihat lebih lanjut wikepedia.com.

[iv] Dukungan Bugis yang Berpaling dari Raja Kecil,  karena Raja Kecil gagal memenuhi janji-janjinya kepada orang Bugis, terutama soal jabatan Yamtuan Muda. Hal ini membuat pemimpin Bugis, Daeng Parani, bersekutu dengan Bendahara untuk merebut takhta Johor. Daeng Marewah adalah salah satu dari lima bersaudara Bugis (bersama Daeng Parani, Daeng Menambun, Daeng Celak, dan Daeng Kemasi) yang sangat dihormati dan berpengaruh dalam sejarah Melayu-Bugis. seperti dijelaskan dalam Wikipedia.

[v] Gelar ini kemudian disematkan pada nama pada tiap-tiap kali pelantikan sultan yang baru di Kesultanan Asahan dan Kesultanan Langkat, sebagai wilayah taklukan Kesultanan Siak. Misalnya untuk Sultan Asahan Periode 1915-1980 adalah Tengku Shaibun yang setelah diangkat menjadi Sultan namanya menjadi Tuanku Sultan Shaibun Abdul Jalil Rahmad Shah III. Demikian juga untuk Sultan Asahan Periode 1980 – 2023 adalah Tengku Kamal Abraham, setleah dinobatklan menjadi Sultan namanya menjadi Tuanku Sultan Kamal Abraham Abdul Jalil Rahmad Shah. Sultan Asahan yang saat ini naik takhta adalah Tengku Muhammad Iqbal Alvinanda yang setelah dionobatkan menjadi Sultan Asahan pada Tanggal 10 Agustus 2023 namanya menjadi Tuanku Sultan Muhammad Iqbal Alvinanda Abdul Jalil Rahmad Shah. Di Kesultanan Negeri Langkat juga demikian. Sultan Langkat kedua (1893-1927) adalah Tengku Abdul Azis Ibni Tuanku Haji Musa Almahadamsyah (SultanLangkat Pertama yang diakui Masyarakat dunia yang berkuasa (1865-1892), setelah naik takhta namanya menjadi Tuanku Sultan Abdul Azis Abdul Jalil Rahmatsyah yang kemudian digantikan oleh puteranya Tengku Mahmud yang kemudian seterah naik takhta (1927-1946) namanya menjadi Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmatsyah. Demikian juga Sultan yang berkuasa saat ini adalah Sultan Langkat yang ke-4, adalah Tengku Harimugaya yang setelah ditabalkan pada Tanggal 22 Juni 2014 namanya menjadi Tuanku Harimugaya Abdul Jalil Rahmatsyah

[vi] Di sini tampak Belanda (V.O.C)  memainkan politik devide et impera. Politik pecah belah yang selama bertahun-tahun diajalankan Belanda di wilayah koloninya. Naifnya Raj-raja Melayu begitu mudah dipengaruhi, dengan imbalan berbagai hal termasuk kekuasaan hingga akahiunya harus menyingkirkan kerabatnya sendiri.

Bersambung.....

Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)