Oleh : Wan Ades Iskandar Nasution
(Ketua KJSWIB Labusel)
Sesuai dengan waktu yang ditentukan, Sulaiman
Pulungan dan beberapa orang memulai membangun perkampungan itu dan sekaligus
membuka lahan perladangan. Dengan kerja
keras dan kerjasama, Sulaiman berhasil membuka perkampungan tersebut.
“Kita harus terus bekerja agar
perladangan ini dapat terbentuk, tentunya akan dapat menjadi sumber pendapatan kita”
kata Sulaiman.
“Benar itu, apalagi daerah disini
dekat dengan air” kata pengikutnya.
“Intinya, jangan ada kata
menyerah sebelum keinginan kita terwujud. Biarlah peluh kita ini sebagai bukti dalam
sejarah bagi generasi kita selanjutnya. Dari peluh yang mengalir deras ini akan
dapat menjadi tetesan kegembiraan yang penuh sukacita. Sebab kita sebagai orang
yang pertama membangun kampung ini akan tetap dikenang” ujar Sulaiman sambil memotong
beberapa dahan pohon yang telah mereka tumbang.
Usaha mereka tidak akan pernah
sia-sia, sebab setiap peluh yang mereka keluarkan akan terbayar dengan senyuman
kemenangan dari generasi selanjutnya.
Seiring berjalannya waktu, perkampungan itu sudah
mulai ramai oleh para pendatang yang ingin menetap dan berusaha di kampung
tersebut. Sulaiman Pulungan sebagai pembuka kampung itu sangat merespon siapa
saja yang ingin menetap di perkampungan yang baru di bukanya dengan tujuan
perkampungan itu menjadi ramai.Tentunya dengan mentaati aturan
yang telah mereka buat dalam mengelola perladangan, adat istiadat dan tata cara
berinteraksi sesama waraga.
Saat itu kondisi daerah yang baru di buka tidak begitu
ramai, hanya terdiri kahanggi, anak boru dan mora. Kehadiran mereka di kampung yang baru di buka Sulaiman Pulungan memberikan
warna tersendiri. Hal itu disebabkan, berinteraksinya antara kahanggi, anak
boru dan mora dalam membuka perkampungan itu. Satu
kesatuan yang tidak terpisahkan saling terkait dalam lingkup Dalihan na tolu.
Dimana diantara ketiganya saling
memiliki hubungan timbal balik yang kuat. Kahanggi dan Mora berada pada
kedudukan yang lebih tinggi, sementara Anak Boru berada di posisi terendah,
namun ketiganya saling menghormati dan membutuhkan. Anak Boru bertugas
membantu dan berkorban untuk Mora, sementara Mora memberikan pengayoman dan
anak gadisnya. Kahanggi juga berperan sebagai penanggung beban bersama
anak boru dan menjadi pengayom.
Hal ini menggambarkan kedekatan yang kuat diantara
anggota keluarga yang tidak terpisahkan.
Karenanya adat isitiadat ini masih dipakai dalam setiap kesempatan demi
langgengnya kerapatan adat itu sendiri.
Setelah lengkapnya strata masyarakat yang ada di
perkampungan itu, H. Sulaiman Pulungan berkinginan menabalkan kampung itu agar
secara resmi di akui keberadaanya. Setelah bermusyawarah dengan kahanggi, anak
boru dan mora diambil kesimpulan untuk segera menghadap Sultan Kotapinang agar
menabalkan nama kampung yang mereka tempati itu. Saat itu belum ada nama
kampung yang akan mereka usulkan kepada Sultan Kotapinang.
“Bagaimana kalau kita menghadap Sultan Kotapinang agar
kampung ini di tabalkan namanya menjadi kampung yang resmi” tanya H. Sulaiman
Pulungan saat musyawarah dengan warga yang ada di sana.
Apa yang ditawarkan Sulaiman Pulungan ternyata gayung
bersambut, masyarakat yang terdiri dari Kahanggi, anak boru dan mora sepakat
akan usulan itu. Dan saat itu di sepakati untuk secepatnya menghadap kepada
Sultan di Kesultanan Kotapinang.Bersambung........
Sumber :
1. Wawancara
dengan Pj. Kepala Desa Asam Jawa, Hendra Kusbandi, ST, pada Kamis, 3 Juli 2025.
2. Wawancara
dengan H, Samsul Bahri Hasibuan, pada Selasa, tanggal 15 Juli 2025
3. Wawancara
dengan H. Dahlan Harahap pada Kamis, 17 Juli 2025
4. Wawancara
dengan H. Pahlon Pulungan, pada Rabu, tanggal 30 Juli 2025.


Posting Komentar
0Komentar