SEJARAH DESA ASAM JAWA (III)

Media Barak Time.com
By -
0

 


Oleh : Wan Ades Iskandar Nasution

(Ketua KJSWIB Labusel)


Sesuai dengan waktu  yang ditentukan, Sulaiman Pulungan dan beberapa orang memulai membangun perkampungan itu dan sekaligus membuka lahan perladangan.  Dengan kerja keras dan kerjasama, Sulaiman berhasil membuka perkampungan tersebut.

“Kita harus terus bekerja agar perladangan ini dapat terbentuk, tentunya akan dapat menjadi sumber pendapatan kita” kata Sulaiman.

“Benar itu, apalagi daerah disini dekat dengan air” kata pengikutnya.

“Intinya, jangan ada kata menyerah sebelum keinginan kita terwujud. Biarlah peluh kita ini sebagai bukti dalam sejarah bagi generasi kita selanjutnya. Dari peluh yang mengalir deras ini akan dapat menjadi tetesan kegembiraan yang penuh sukacita. Sebab kita sebagai orang yang pertama membangun kampung ini akan tetap dikenang” ujar Sulaiman sambil memotong beberapa dahan pohon yang telah mereka tumbang.

 

Usaha mereka tidak akan pernah sia-sia, sebab setiap peluh yang mereka keluarkan akan terbayar dengan senyuman kemenangan dari generasi selanjutnya.

 

Seiring berjalannya waktu, perkampungan itu sudah mulai ramai oleh para pendatang yang ingin menetap dan berusaha di kampung tersebut. Sulaiman Pulungan sebagai pembuka kampung itu sangat merespon siapa saja yang ingin menetap di perkampungan yang baru di bukanya dengan tujuan perkampungan itu menjadi ramai.Tentunya dengan mentaati aturan yang telah mereka buat dalam mengelola perladangan, adat istiadat dan tata cara berinteraksi sesama waraga.

Saat itu kondisi daerah yang baru di buka tidak begitu ramai, hanya terdiri kahanggi, anak boru dan mora. Kehadiran mereka di kampung yang baru di buka Sulaiman Pulungan memberikan warna tersendiri. Hal itu disebabkan, berinteraksinya antara kahanggi, anak boru dan mora dalam membuka perkampungan itu. Satu kesatuan yang tidak terpisahkan saling terkait dalam lingkup Dalihan na tolu. Dimana diantara ketiganya saling memiliki hubungan timbal balik yang kuat. Kahanggi dan Mora berada pada kedudukan yang lebih tinggi, sementara Anak Boru berada di posisi terendah, namun ketiganya saling menghormati dan membutuhkan. Anak Boru bertugas membantu dan berkorban untuk Mora, sementara Mora memberikan pengayoman dan anak gadisnya. Kahanggi juga berperan sebagai penanggung beban bersama anak boru dan menjadi pengayom. 

Hal ini menggambarkan kedekatan yang kuat diantara anggota keluarga yang tidak terpisahkan. Karenanya adat isitiadat ini masih dipakai dalam setiap kesempatan demi langgengnya kerapatan adat itu sendiri.

 

Setelah lengkapnya strata masyarakat yang ada di perkampungan itu, H. Sulaiman Pulungan berkinginan menabalkan kampung itu agar secara resmi di akui keberadaanya. Setelah bermusyawarah dengan kahanggi, anak boru dan mora diambil kesimpulan untuk segera menghadap Sultan Kotapinang agar menabalkan nama kampung yang mereka tempati itu. Saat itu belum ada nama kampung yang akan mereka usulkan kepada Sultan Kotapinang.

“Bagaimana kalau kita menghadap Sultan Kotapinang agar kampung ini di tabalkan namanya menjadi kampung yang resmi” tanya H. Sulaiman Pulungan saat musyawarah dengan warga yang ada di sana.

Apa yang ditawarkan Sulaiman Pulungan ternyata gayung bersambut, masyarakat yang terdiri dari Kahanggi, anak boru dan mora sepakat akan usulan itu. Dan saat itu di sepakati untuk secepatnya menghadap kepada Sultan di Kesultanan Kotapinang.Bersambung........

Sumber :

1.    Wawancara dengan Pj. Kepala Desa Asam Jawa, Hendra Kusbandi, ST, pada Kamis, 3 Juli 2025.

2.    Wawancara dengan H, Samsul Bahri Hasibuan, pada Selasa, tanggal 15 Juli 2025

3.    Wawancara dengan H. Dahlan Harahap pada Kamis, 17 Juli 2025

4.    Wawancara dengan H. Pahlon Pulungan, pada Rabu, tanggal 30 Juli 2025.


Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)