Baraktimecom|Aceh Singkil
Apa yang seharusnya menjadi kado manis dari Istana Negara untuk masyarakat Bumi Syekh Abdurrauf As-Singkili kini berubah menjadi pil pahit yang sukar ditelan.
Di tengah duka warga yang baru saja dihantam bencana banjir dan longsor, bantuan sapi Meugang senilai miliaran rupiah dari Presiden Prabowo Subianto justru memicu badai polemik yang mengusik rasa keadilan.
Bantuan ini sejatinya adalah bentuk penghormatan tinggi sang Presiden terhadap Meugang, tradisi sakral masyarakat Aceh yang melambangkan solidaritas. Namun, di Aceh Singkil yang mendapat kucuran dana sebesar Rp 1 miliar, harapan warga untuk merayakan hari besar dengan layak seolah pupus.
Alih-alih menjadi penyambung napas ekonomi pascabencana, proses penyaluran bantuan ini justru diselimuti aroma tak sedap.
Pantauan Tim Media di Kecamatan Gunung Meriah pada Selasa (17/2) merekam potret kekecewaan yang mendalam. Warga yang datang dengan harapan besar justru disuguhi pemandangan yang menyakitkan hati.
Ukuran Tak Wajar, Lembu yang dibeli hanya sebesar kambing jantan, keluh salah satu warga dengan nada getir.
Diduga kuat, spesifikasi hewan ternak yang diadakan jauh di bawah standar anggaran yang dialokasikan.
Jatah Minimalis, Dari anggaran miliaran rupiah, masyarakat melaporkan hanya menerima jatah daging sebanyak 5 ons per Kepala Keluarga (KK).
Jumlah yang dianggap menghina akal sehat untuk proyek berskala masif tersebut.
Aroma Mark-Up, Muncul dugaan kuat bahwa pengadaan ini dijadikan ajang bancakan atau pencarian keuntungan pribadi melalui penggelembungan harga (mark-up).
"Kami tidak ingin niat baik Presiden Prabowo ternodai oleh praktik penyalahgunaan wewenang di tingkat lokal. Keterbukaan informasi adalah kunci," tegas Budi Harjo Sekretaris Jenderal AMPAS, Aceh Singkil.
Ironisnya, kegaduhan di tingkat akar rumput ini justru ditanggapi dengan aksi bungkam oleh pihak otoritas. Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil belum merilis data transparan mengenai jumlah total ekor sapi yang dipotong.
Tim penyuluhan dari Dinas Pertanian dan Peternakan yang berada di lokasi pemotongan pun enggan memberikan rincian teknis. Mereka berdalih hanya bertugas sebagai pendamping, sebuah jawaban yang semakin mempertebal kabut misteri di balik pengadaan ini.
Kini, bantuan jumbo tersebut menjadi ujian moral bagi integritas pejabat di Aceh Singkil. Publik kini menunggu, apakah akan ada audit transparan untuk menegakkan keadilan bagi korban banjir, ataukah Sapi Meugang ini hanya akan menjadi mesin pengenyang kantong para oknum di atas penderitaan rakyat yang sedang terhimpit?
Keadilan harus segera disuarakan sebelum kepercayaan masyarakat terhadap instruksi pusat luntur akibat ulah nakal di daerah.
Bau Tak Sedap
Sementara itu, di salah satu kecamatan di Aceh Singkil tepatnya di Desa Kampung Baru Kecamatan Singkil Utara, sejumlah warga mengaku bahwa daging yang diterima tercium bau tidak sedap dan diduga telah mengalami perubahan warna.
“Kami tidak tahu pasti bagaimana proses distribusinya, tapi saat dibuka, baunya sudah menyengat. kami menduga daging tersebut tidak segar,” ujar salah seorang warga pada Rabu (18/2/2026).
Meski demikian, dugaan tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya. hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak panitia penyalur bantuan di tingkat desa maupun kecamatan terkait kondisi daging tersebut.
Belum diketahui pula, apa kah dugaan tersebut terjadi secara menyeluruh atau hanya pada sebagian paket bantuan? sejumlah warga berharap ada klarifikasi dan pemeriksaan lebih lanjut dari pihak terkait guna memastikan kualitas bantuan yang disalurkan kepada masyarakat.
"Mereka menilai, apabila benar terdapat daging yang tidak layak konsumsi, maka hal itu perlu segera ditindaklanjuti demi kesehatan warga.
Disisi lain, program bantuan pangan menjelang ramadhan pada umumnya bertujuan membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok.
Oleh karena itu, warga berharap proses distribusi dan pengawasan kualitas bahan pangan dapat dilakukan secara lebih ketat agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
"Pihak terkait, diharapkan dapat memberikan penjelasan resmi guna memastikan apakah dugaan tersebut benar atau tidak, sehingga informasi yang beredar tidak berkembang menjadi simpang siur di tengah warga," pungkasnya. (MP)


Posting Komentar
0Komentar